Oleh: Muhammad Yusuf
(Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mamuju)
Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, satu fenomena klasik hampir selalu berulang: lonjakan konsumsi masyarakat yang kerap dibarengi dengan kenaikan harga bahan pangan di pasar.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton pasif. Kehadiran negara harus terasa nyata untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga dan tidak tergilas oleh dinamika pasar.
Bagi Pemerintah Kabupaten Mamuju, stabilitas harga pangan bukan sekadar persoalan statistik inflasi. Lebih dari itu, ia adalah uji nyata keberpihakan kebijakan kepada rakyat, terutama bagi masyarakat kecil yang paling rentan merasakan dampak gejolak harga.
Di bawah kepemimpinan Bupati Mamuju, Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, kegelisahan publik tersebut dijawab melalui langkah konkret.
Pemerintah Kabupaten Mamuju menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) atau Pasar Murah di Lapangan Ahmad Kirang, Kota Mamuju, pada Jumat dan Sabtu, 13–14 Maret 2026.
Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi kegiatan menjadi bukti bahwa program ini benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.
Namun penting ditegaskan, GPM bukan sekadar kegiatan seremonial atau aksi sektoral. Ia merupakan wujud kerja kolektif pemerintah daerah yang terintegrasi dalam visi besar “Mamuju Keren” — Kreatif, Edukatif, Ramah, Energik, dan Nyaman.
Dalam konteks ini, nilai “Nyaman” diterjemahkan secara nyata melalui jaminan stabilitas pangan.
Masyarakat harus merasakan ketenangan karena kebutuhan pokok mereka tersedia dengan harga yang terjangkau. Pemerintah hadir memastikan bahwa dapur rakyat tetap menyala.
Pelaksanaan pasar murah ini juga sejalan dengan arahan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam upaya mitigasi dampak El Nino dan perubahan iklim terhadap ketersediaan pangan nasional.
Namun bagi Kabupaten Mamuju, kebijakan pusat tersebut tidak berhenti pada tataran instruksi administratif. Ia menjadi pemantik bagi komitmen lokal untuk memperkuat intervensi pasar dan memutus rantai distribusi pangan yang terlalu panjang, yang seringkali merugikan konsumen.
Pemerintah daerah kini tidak lagi sekadar merumuskan kebijakan dari balik meja birokrasi. Pemerintah hadir langsung di lapangan, menjadi intervensor pasar demi menjaga keseimbangan antara pasokan, distribusi, dan harga.
Bupati Mamuju bersama jajaran pemerintah daerah bahkan turun langsung memantau kondisi harga di Pasar Lama Mamuju, menyusuri sudut-sudut pasar untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang Lebaran.
Dalam upaya ini, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bergerak sebagai satu kesatuan mesin birokrasi yang solid. Seluruh perangkat daerah mengambil peran sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Kami di Dinas Kelautan dan Perikanan turut ambil bagian, memastikan ketersediaan protein hewani dari sektor perikanan tetap terjangkau bagi masyarakat. Ikan sebagai sumber gizi utama tidak boleh berubah menjadi komoditas mahal saat kebutuhan masyarakat meningkat.
Ke depan, kontribusi DKP, sektor perikanan akan terus berkontribusi pelaksanaan GPM, melalui konsolidasi kelompok usaha perikanan yang sedang kami perkuat. penguatan distribusi hasil tangkap dan budidaya, serta peningkatan kapasitas produksi lokal.
Di sinilah esensi kepemimpinan Bupati Sutinah Suhardi terlihat jelas. Beliau mendorong setiap Organisasi Perangkat Daerah untuk bekerja secara energik dan kreatif, mengoptimalkan sumber daya dan anggaran daerah guna meredam gejolak harga serta menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Bagi Pemerintah Kabupaten Mamuju, GPM bukan sekadar agenda bagi-bagi sembako murah. Ia adalah strategi kebijakan yang memberikan sinyal tegas kepada para spekulan pasar bahwa pemerintah memiliki kendali atas stabilitas stok dan distribusi pangan.
Keberhasilan menjaga stabilitas harga pangan menjelang Idul Fitri ini menjadi bukti bahwa birokrasi di Kabupaten Mamuju terus bertransformasi menjadi birokrasi yang responsif, solutif, dan hadir di tengah masyarakat.
Visi “Mamuju Keren” bukan sekadar slogan pembangunan. Ia dibuktikan melalui langkah nyata pemerintah dalam memperkuat distribusi pangan, mendorong kerja sama lintas sektor, serta membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan daerah.
Menjelang hari kemenangan, tantangan mungkin terus berubah. Namun dengan kepemimpinan yang responsif dan kerja kolektif yang solid, masyarakat Mamuju tidak perlu cemas.
Pemerintah Kabupaten Mamuju hadir untuk memastikan bahwa Idul Fitri disambut dengan ketenangan dan kebahagiaan, karena dapur warga tetap mengepul tanpa harus tercekik oleh lonjakan harga pangan.
Inilah wajah Mamuju yang semakin Keren:
daerah yang kuat secara pangan, stabil secara ekonomi, dan berpihak pada kesejahteraan rakyatnya.
“Selamat Menyambut Hari Raya Idul Fitri”.
